Istilah jurnalistik, diambil dari sebuah media yang dikeluarkan oleh Caesar romawi yaitu Acta Durna, Acta Diurna bukanlah sebuah surat kabar, tetapi hanyalah sebuah papan pengumuman yang dipasang di tengah kota Romawi, yang berisi berita-berita resmi ke caesaran dan berita lainnya, yang setiap orang bebas membaca dan mengutipnya. Selain kata diurnal juga dikenal kata diurnarius atau diurnari, yaitu seseorang yang tugasnya mencari berita. Dari kata-kata inilah kata jurnalistik muncul, diurnari yang sangat terkenal saat itu adalah Chrestus dan Caelius Rufus
.
Selain itu jurnalistik juga berasal dari bahasa Belanda yaitu journalistiek, seperti halnya dengan istilah bahasa Inggris (journalism), merupakan terjemahan dari bahsa latin (Diurnal) yang berarti harian atau setiap hari.atau jurnalistik adalah Journal yang berarti pewartaan atau catatan harian.
Jurnalistik juga berasal darai bahasa Perancis Do jour yang berarti hari. Journal berarti catatan harian tentang hal-hal yang dianggap penting yang terjadi pada hari itu.
Jurnalistik Islam dapat dimaknai sebagai “suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan-muatan nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan ummat Islam kepada khalayak, serta berbagai pandangan dengan persepektif ajaran Islam”. Dapat juga jurnalistik Islam dimaknai sebagai “proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan muatan dan sosialisasi nilai-nilai Islam”. Jurnalistik Islam bisa dikatakan sebagai crousade journalism, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nila-nilai Islam. Jurnalistik Islam mengemban misi ‘amar ma’ruf nahi munkar ‘(Q.S. Ali Imran ayat: 104).
Dalam hal ini seorang jurnalis atau wartawan muslim dituntut untuk selalu menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan dalam memberikan informasi kepada khalayak. Hal ini dimaksudkan agar berita yang diperoleh oleh khalayak luas atau masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara langsung oleh sipembuat berita yaitu wartawan itu sendiri. Kelengkapan al-Quran dengan jurnalistik Islam yang membiaskan pengaruh sangat luas, eksis dalam hubungan keduanya yang seakan-akan saudara kembar atau pinang dibelah dua. Bahwa al-Quran kata-kata Tuhan sedangkan jurnalistik adalah “tulisan tangan manusia”.
Asep Syamsul Ramli menjelaskan bahwa jurnalistik Islam adalah proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang saratdengan muatan nilai-nilai Islam.
Dewasa ini, dapat dikatakan pers Islam kalah unggul dan kalah pamor oleh pers umum. Banyak factor yang mengakibatkan lemah dan terpinggirkannya pers Islam, antara lain:
1. Kurang atau lemahnya dukungan dana.
2. Lemahnya manajement akibat kurang/tidak profesionalnya para pengelola,sehingga gaya bahasa, tekhnik penulisan, pemilihan dan pemilahan topic, serta tampilan produk termasuk perwajahan kurang atau tidak menarik perhatian dan minat membaca orang.
3. Masih lemahnya kesadaran informative umat islam akan masalah-masalah keislaman. Mereka masih lebih tertarik oleh informasi non-Islam, atau lebih senang membaca/membeli pers umum.
Untuk mengatasi problematika tersebut maka diperlukan peranan para jurnalis Muslim dan media massa yang akan menjadi wadahnya
.
NAMA : APRILIA MARGI SAPUTRI
NIM : 14115413

Posting Komentar